BAB II
PEMBAHASAN
Israiliyat , secara terminologis , merupkan jamak dari kata isroiliyah (isim) yang di nisbatkan pada kata israil , bahasa ibrani yang berarti hamba tuhan dalam pengertian lain isroiliyat dinisbatkan keapda Israil , Yaitu Yakub dan Ishak bin Ibrahim , yang mempunyai keturunan dua belas sedangkan istilah yahudi merupakan sebutan bagi Bani Israil . Ini sesuai dengan hadis riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas : sekelompok orang yahudi telah mendatangi Nabi Saw untuk bertanya kepada mereka : tahukah kamu sekalian bahwa sesungguhnya bahwa israil adalah nabi Ya’kub “? ‘Mereka menjawab “ betul “ kemudian Nabi Saw . berdoa “Ya Tuhanku , saksikanlah pengakuan mereka ini “
Dari segi terminologi , kata israiliyat walaupun pada mulnya hanyalah menunjukan riwayat yang bersumber dari kaum yahudi ulama ahli tafsir dan hadi sakhirnay menggunakan istilah tersebut dalam arti yang lebih luas lagi . Israiliyat adalah seluruh riwayat yang bersumber dari kaum Yahudi dan Nasrani , serta selain dari keduanya yang masuk dalam tafsir dan hadis . Ada pula ulama tafsir dan hadis yang memberi pengertian isroiliyat sebagai cerita yang bersumber dari musuh – musuh islam baik Yahudi, nasrani maupun yang lainya .
Muhammad Husain adz Dzahabi , misalnya membagi pengertian israiliyat dalam dua macam :
a) Israiliyat sebagai kisah atau dongeng – dongeng kuno yang menyusup kedalam tafsir dan hadis yang asal periwayatanya kembali kepada sumber nasrani , yahudi atau yang lainya.
b) kisah dan dongeng yang sengaja diselundupkan oleh musuh – musuh islam kedalam tafsir dan hadis yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber lama. Kisah itu sendiri sengaja di selundupkan dengan tujuan merusak akidah kaum muslimin.
Ahmad Khalil berpendapat bahwa yang dimaksud isroiliyat adalah kisah-kisah yang diriwayatkan oleh ahli kitab , baik yang berhubungan dengan agama mereka atau tidak . Amin Al Khuli berpendapat bahwa israiliyat merupakan pembaruan kisah – kisah dari agama dan kepercayaan bukan islam yang merembes ,asuk ke jazirah arab islam . Kisah – kisah tersebut dibawa oleh orang - orang yahudi yang sejak dulu berkelana ke arah barat menuju Babilonia dan sekitarnya , sedangakan kearah barat menuju mesir . Setelah mereka kembali kedaerah asal , mereka membawa bermacam – macam berita keagamaan yang mereka jumpai dari negara – negara yang mereka singgahi.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat dikatakan bahwa israiliyyat itu bersifat netral, artinya dapat berupa kisah-kisah atau yang lainnya, serta dapat pula sejalan atau tidak sejalan dengan Islam. Namun, perlu diingat bahwa umu-mnya israiliyyat adalah cerita-cerita dan dongeng-dongeng buatan non muslim yang masuk kedalam Islam. Kalaupun ada yang sejalan dengan Islam, disamping jumlahnya sangat sedikit, hal itu juga sebenarnya tidak dibutuhkan sebagai rujukan dalam penafsiran Al Qur’an. Dari segi lain, tampaknya ulama’-ulama’ diatas sepakat bahwa yang menjadi sumber israiliyyat adalah Yahudi dan Nasrani, dengan penekanan bahwa Yahudi-lah sumber utamanya sebagaimana tercermin dari kata israiliyyat itu sendiri.
B. Latar Belakang Tumbuhnya Israiliyyat
Pada waktu itu hidup di tengah-tengah orang Arab segolongan Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi yang pindah ke jazirah Arab sejak dahulu. Perpindahan itu terjadi secara besar-besaran pada tahun 70 M. Mereka lari dari ancaman dan siksaan yang dating dari Titus. Mereka pindah ke jazirah Arab bersama kebudayaan yang mereka ambil dari kitab-kitab agama mereka.
Di saat demikian itu datanglah agama Islam dengan kitabnya yang bernilai tinggi dan mempunyai ajaran pendidikan yang tinggi pula. Karena orang Yahudi bertetangga dengan kaum Muslimin, seringa terjadi pertemuan antara kaum Muslimin dengan orang Yahudi, dan sering pula terjadi diskusi dan perdebatan di antara mereka. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah masuknya Islam beberapa golongan Yahudi, seperti Abdullah bin Salam, Abdullah bun Suraya, Ka’b Al-Ahbar dan lain-lain yang pada umumnya mempunyai pengetahuan yang luas mengenai kebudayaan Yahudi. Antara kaum Muslimin dengan mereka sering terjadi pertukaran pandangan yang kiranya perlu diperhatikan. Dengan demikian melekatlah kebudayaan Yahudi dengan kebudayaan Islam melalui media yang lebih luas juga. Bisa disimpulkan bahwa adanya kisah Israiliyyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab Jahiliyyah dan kaum Yahudi.
Pendapat lain menyatakan bahwa timbulnya Israiliyyat karena beberapa alasan yang sulit dihindari, yaitu:
a. Semakin banyaknya orang Yahudi yang masuk Islam. Sebelumnya, mereka adalah kaum yang berperadaban tinggi. Tatkala masuk Islam, mereka tidak melepaskan begitu saja seluruh ajaran yang mereka anut sebelumnya sehingga dalam pemahaman dan penerapannya acapkali tercampur antara ajaran yang mereka anut sebelumnya dan Islam.
b. Adanya keinginan kuat dari kaum Muslim masa itu untuk mengetahui sepenuhnya tentang seluk-beluk bangsa Yahudi yang berperadaban tinggi yang al-Qur’an hanya mengungkapkannya sepintas. Lalu, muncullah kelompok mufassir yang berusaa meraih kesempatan itu dengan memasukkan kisah-kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi-Nasrani tersebut. Akibatnya, tafsir itu dipenuhi oleh kesimpangsiuran, bahkan terkadang mendekati khurafat dan takhayul.
c. Adanya ulama Yahudi yang masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Ka’b bin Ahbar, Wahab bin Munabbih. Mereka dipandang mempunyai andil besar terhadap tersebarnya kisah Israiliyyat di kalangan Muslim.
Kisah Israiliyyat semakin berkembang subur di kalangan Islam ketika masa tabi’in dan mencapai suksesnya pada masa tabi’it tabi’in.Pada masa tabi’in timbulla kecintaan yang luar biasa kepada kisah Israiliyyat. Mereks cenderung mengambil cerita tersebut secara ceroboh sehingga setiap cerita yang ada hampir tidak ada yang ditolak. Mereka tidak mengembalikan cerita tersebut kepada al-Qur’an, walaupun terkadang tidak dimengerti oleh akal.
Ilmu mujadalah dan diskusi akhirnya terpengaruh oleh israiliyyat ini. Abu Mansur Al- Bagdadi pengarang kitab Perbedaan antara Golongan-golongan, telah menceritakan pula kepada kita bahwa akidah Sabiah yang menyatakan Ali, tidak dibunuh melainkan diangkat ke langit, seperti diangkatnya Isa bin Maryam, adalah golonan sesat. Mulanya pendapat ini ditiupkan oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi, lalu disebarluaskan di antara sahabat-sahabatnya, sehingga mereka mengira bahwa yang dibunuh itu bukan Ali. Dan sesungguhnya Ali naik ke langit seperti naiknya Isa bin Maryam. Ia berkata: Dustalah orang Yahudi dan Nasrani dalam pengakuannya membunuh Isa, demikian dustalah Nawasib, dan Khawarij yang mengaku membunuh Ali. Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani telah melihat seorang yang disalib menyerupai Isa. Demikian pula mereka yang menyatakan membunuh Ali telah melihat bahwa Ali lalu yang dibunuh. Padahal Ali telah naik ke langit, dan ia akan turun ke dunia serta akan menghancurkan musuhnya.
Dalam perkembangan berikutnya terdapat faktor-faktor lain yang ikut mendukung masuknya kisah-kisah israiliyyat itu kedalam islam, seperti diterjemahkannya kiktab Taurat dari bahasa Ibraniy kedalam bahasa arab, yang menurut Ibnu Al Nadin dilakukan oleh orang yang bernama Ahmad Ibn Salam.
C. Macam-Macam Israiliyyat
Cerita-cerita Israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian, tetapi ada juga yang berbeda pandangan.
Jika dilihat dari sudut shahih dan tidaknya, cerita Israiliyyat terbagi pada cerita yang shahih dan cerita yang dhaif (termasuk dhaif yang maudhu’).
Pandangan kedua, dilihat dari sudut sesuai atau tidaknya cerita Israiliyyat tersebut dengan syariat Islam. Jika dilihat dari segi ini, cerita Israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian: pertama, yang sesuai dengan syariat kita. Kedua, yang bertentangan dengan syariat dan ketiga yang didiamkan (maksud anhu), yakni tidak terdapat` di dalam syariat kita alasan yang memperkuatnya dan tidak ada pula alasan yang menyatakan tidak ada manfaatnya.
Sudut pandang yang ke tiga, dilihat dari segi materinya, cerita Israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, yang berhubungan dengan akidah, kedua, yang berhubungan dengan hukum-hukum, dan ketiga, yang berhubungan dengan nasehat-nasehat atau kejadian-kejadian yang tidak berkaitan dengan akidah maupun hukum.
D. Pendapat para ulama’ terhadap israiliyyat
Para ulama’ dalam menggambarkan tentang israiliyyat terbagi kedalam 2 kelompok, yakni ulama salaf dan ulama’ kholaf.
a. Pendapat ulama’ salaf
Ulama’ salaf terbagi menjadi 3 kelompok dalam memandang israiliyyat :
- Tidak mempercayai israiliyyat, merasa cukup dengan Al Qur’an. Tokohnya yakni : Ibnu Katsir.
- Terlalu mengagungkan israiliyyat, sehingga bertentangan dengan Al Qur’an. Tokohnya yakni : Ibnu Jarir al-Jabariy.
- Tidak memihak kepada aliran pertama dan kedua (pertengahan). Dalam hal ini boleh diriwayatkan, dengan catatan tidak harus dipegangi, tetapi hanya sekedar tahu saja. Tokohnya yakni : Ibnu Jarir al-Thabariy.
b. Pendapat ulama’ kholaf
Diantara ulama’-ulama’ kholaf, Muhammad Abduh adalah termasuk ulama’ yang paling gencar mengkritik kebiasaan ulama’ tafsir masa awal yang banyak menggunakan israiliyyat sebagai penafsiran Al Qur’an, dengan cara menggabungkan Al Qur’an dengan israiliyyat. Menurutnya cara itu telah merusak pemahaman terhadap ajaran islam. Menurut Abu Zahrah, bahwa seluruh israiliyyat itu harus dibuang, karena tidak berguna dalam memahami makna Al Qur’an . Sedangkan Abdul ‘Aziz Jawisy berpandangan bahwa israiliyyat pada dasarnya telah menyesatkan akal dan menjauhkan umat islam dari makna Al Qur’an. Bahkan, menurut Al Biqa’iy bahwa menafsirkan Al Qur’an dengan israiliyyat merupakan sesuatu yang paling munkar.
Namun, dibalik penolakan-penolakan ulama’ kholaf terhadap israiliyyat tersebut, ternyata mereka terperangkap kedalamnya. Buktinya yakni ketika menjelaskan tentang Al Qur’an surat An-Naml berikut :
قال الذي عنده علم من الكتاب انا ءاتيك به قبل ان يرتد اليك طرفك ( النمل : 40)
“Berkata orang yang memiliki ilmu dari golongan ahli kitab, saya akan mendatangkan singgasana (Rati Bilqis) kehadapanmu sebelum matamu berkedip”.
Abduh menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lafadz : “alladzi ‘indahu ilmun minal kitab”, namanya ialah Asif . Walaupun pendapat Abduh ini tidak dikemukakan dalam satu kitab tafsir, namun hal ini menunjukkan sikap inkonsistensinya tentang hal tersebut. Meskipun demikian israiliyyat yang digunakan bukan sebagai dasar pemikiran, tetapi sekedar tambahan penjelasan dalam rangkaian menguatkan penafsiran.
Berdasarkan berbagai keterangan diatas dapat dikatakan bahwa hampir semua ulama’ khalaf memandang negatif terhadap israiliyyat, walaupun kadang-kadang mereka terperosok didalamnya.
E. Pengaruh Israiliyat terhadap penafsiran
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa dasar-dasar kebudayaan agama orang Yahudi itu bersumber dari Taurat, dan orang Nasrani berasal dari Injil. Dan pada saat mereka memeluk agama Islam, berbagai kebudayaan agama dan cerita-cerita mereka yang bersumber dari Taurat dan Injil juga berpengaruh pada penafsiran Al-Qur’an, sebagaimana cerita tentang para Nabi atau umat-umat terdahulu.
Al-Qur’an, pada dasarnya juga memuat hal-hal yang tercantum dalam Taurat dan Injil baik itu tentang cerita-cerita Nabi dan umat-umat terdahulu. Akan tetapi, cerita yang termuat dalam Al-Qur’an itu bersifat global hanya sebagai ibrah atau nasihat, namun kandungan dalam Taurat dan Injil menceritakannya dengan secara terperinci..
Dan proses masuknya cerita Israiliyat ke dalam tafsir dapat kita ketahui dari penjelasan berikut :
• Pada masa Sahabat > Para Sahabat, saat menerima penafsiran ayat-ayat Al-qur’an dari Rasulullah, mereka akan menjaganya dan menyampaikan apa yang mereka dengar pada Sahabat-Sahabat yang tidak hadir dan berusaha menjaga keshahihan periwayatan tersebut. Dan saat sebagian Ahli Kitab masuk islam, dan membaca cerita-cerita yang tercantum dalam Al-Qur’an, mereka terkadang juga menyebutkan perincian-perincian yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Adapun berkenaan dengan sikap Sahabat dari Ahli Kitab ini, para Sahabat lainnya lebih bersikap diam, sebagai bentuk pelaksanaan terhadap hadis Nabi “ Janganlah kamu membenarkan Ahli kitab dan jangan pula kamu mendustakannya, namun katakanlah ‘ Kami beriman pada Allah dan apa yang diturunkan pada kami…. “.
Namun, seiring berjalannya waktu, ada sebagian Sahabat yang menerima pernyataan Ahli kitab asalkan hal tersebut tidak berkaitan dengan akidah dan hukum sebab Nabi juga pernah bersabda “ Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ada dosa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya di neraka “
Jadi, pada masa Sahabat, tidak ada sahabat yang mengambil periwayatan dari golongan ahli Kitab dalam penafsiran Al-Qur’an mengenai Israiliyat kecuali hanya sedikit orang dan itupun jarang sekali.
• Pada saat masa Tabi’in, saat semakin banyak pemeluk Islam dari kalangan Ahli Kitab, para mufassir dari kalangan Tabi’in banyak mengambil penjelasan-penjelasan dari Ahli Kitab tersebut dan semakin berkembanglah para mufassir dengan menggunakan cerita Israiliyat
Para Sahabat yang terkenal dengan keadilan, kekuatan hafalannya serta amanahnya sangat memperhatikan keshahihan periwayatan yang mereka terima,namun pada masa Tabi’in, saat banyak hadis palsu dan kedustaan yang disandarkan pada Nabi, cerita-cerita Israiliyat juga banyak tersebar tanpa diketahui kebenaran ataupun kedustaannya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para Ulama’ zaman Tabi’in memberi batasan-batasan tersendiri mengenai periwayatan untuk menjaga keshahihan hadis dengan keharusan bagi seorang perawi hadis pada untuk meriwayatkan hadis disertai dengan sanadnya.
• Pada masa generasi penerus Tabi’in, saat sebagian diantara mereka menganggap remeh masalah periwayatan dengan meninggalkan penelitian terhadap sanad dan perawinya, maka pembauran hadis-hadis yang tidak jelas kualitasnya juga semakin berkembang sehingga Israiliyat juga ikut berpengaruh pada penafsiran pula ditambah dengan bertambahnya Ahli Kitab yang masuk islam.
Imam Ibnu Khaldun, dalam sebagian pernyataannya juga mengemukakan sebagian latar belakang dari penyebaran Israiliyat dalam penafsiran Al-Qur’an sebagai berikut :
1. Latar belakang kemasyarakatan yakni keinginan para mufassir untuk mengetahui lebih jauh mengenai rahasia-rahasia dan sebab-sebab timbulnya alam semesta membuat mereka menanyakan perihal tersebut pada Ahli Kitab, dan kebanyakan Ahli Kitab yang berada disekitar mereka adalah orang yang ummi dan badwi sebagaimana orang Arab lainnya, dan mereka tidak mengetahui Alkitab kecuali hal-hal yang diketahui oleh orang awam.
2. Latar belakang agama yakni kecendrungan untuk menerima periwayatan tersebut dengan ceroboh tanpa memastikan keshahihan periwayatan tersebut.
Penjelasan diatas adalah rangkaian proses penyebaran masuknya Israiliyat dalam penafsiran Al-Qur’an yang bersumber dari para Ahli kitab yang semakin banyak memeluk Islam.
DAFTAR PUSTAKA
- Usman, Ilmu Tafsir, Yogyakarta : Teras, 2009
- Izzan, Ahmad, Ulumul Qur’an, Bandung : Tafakur, 2009
- Syadzali, Ahmad, Ulumul Qur’an, Bandung : Pustaka Setia, 1997
- Qatthan, Manna’u, Mabahis fii Ulumil Qur’an,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar