Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam Modern dan Pos Modern. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam Modern dan Pos Modern. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Pemikiran Islam Modern dan Pos Modern


A.    MODERNISME DAN MODERNISASI
            Dalam bahasa  sehari-  hari  kita  sering  mengatakan  "modern"  atau  dunia  modern.  Dalam  arti  yang sempit, modern berarti " yang  terbaru" atau mutakhir. Jika di kaitkan manusia sebagai anggota masyarakat   maka modern akan berarti;  "kesanggupan  orang  untuk  mengarahkan  jalannya  sejarah modern  dalam  semua aspek kehidupanya, hingga muncul banyak pemikiran modern dalam perkembangan agama misalnya : munculnya gerakan pemikiran baru yang mungkin merupakan pemikiran yamg radikal pada aspek keagamaan yang di lakukaaan oleh umat itu  sendiri . Gerakan pemikiran itu tidak hanyaa bertumpu pada masalah agama tetapi terkait jugaa dengan masalah polititk umat islam serta bagaaimana aalternatif pemikiran, cultural ataupun keagamaan untuk mengembangkan dayaa gerak pisihikologis umat islam dalam pembangunan  dalam hal ini masih terganjal dengan beberapa aspek
1. Adanya benturan antara tradisionalisme dan modernisasi
2. Trauma  yang  muncul  dalam  persaingan  men-ciptakan  ikatan  komunitas  paska kolonialisme, antara ikatan keagamaan dan nasionalismenya suatu bangsa
3. Sinkritisme  kultural  "santri  abangan"  yang  sebagian  merupakan  akibat  dari adanya  usaha  pemurnian,  tetapi  justru  memunculkan  kategorisasi  umat  hanya pada batas lingkaran yang mengambang.
Dengan latar belakang masalah tersebut di atas, maka pemunculan gerakanpemikiran  baru  dalam  Islam  adalah  sebagai  upaya  untuk  menjembatani kesenjangan  antara  idealitas  Islam  dan  kerangkan  realistis  umat  Islam.
   GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM POSMODERNISME
Istilah post-modernism  atau  singkatnya posmo  tas mengisyaratkan  sebentuk  benang merah  yang  menghubungkannya,  yaitu  bahwa  posmodernisme  adalah  suatu  gerakan   pemikiran  atau kultur dalam  fase khusus  sejarah manusia,  setelah  fase modern  yang  berciri  relativisme  dan  serba  makna,  yang  muncul  setelah mengamati dampak kehidupan modern dan kegagalannya.   Mengidentifikasi  beberapa  ciri  utama  posmodernisme, diharapkan  dapat membantu  memperoleh  pemahaman  yang  lebih  akurat  terhadap  fenomena kontemporer .  Oleh karenanya umat Islam jika ingin maju harus berangkat dari prestasi . modernisme, sebagai puncak prestasi dalam sejarah manusia sebelumnya.   Berdasarkan  uraian  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa    modernitas mengembangkan  pandangan  yang  adil  dan  obyektif  tehadap  posmodernisme yakni  dengan  menganalisis  kekuatan  dan  kekurangannya.  Sebab  betapapun posmodenisme memiliki kontradiksi-kontradiksi, semisal .1.  Ia menggugat materialisme, tetapi ia sendiri merupakan keinginan yang tidak pernah puas megikuti tatanan konsumerisme.
2. Posmodernisme penuh anarki, ketidak menentuan dalam keputusan.
3. Posmodernisme penuh “intoleransi” dan cenderung fundamentalis, “rigid” dan “literalis.4.  Posmodernisme  cenderung  sebagai  kesombongan  intelektual,  dan  cenderung sebagai diskusi akademik yang jauh dari kenyataan5. Posmodernisme cenderung menyulut kemarau intelektual yang berkepanjangan  di kalangan umat manusia. Namun kita tidak boleh lupa angin positif yang dihembuskannya, yakni:
1.  Menyadarkan kepada kita akan pentingnya   keberagaman
2.  Mengembalikan spiritual yang tercecer dari dunia modern.
3.  Kebajikan yang ada kaitannya dengan agama-agama, rendah hati, kesalehan,  kasih sayang, bakti pada orang tua, dan keberpihakan pada yang lemah. Dengan  demikian  faktor  positif  dari  posmodernisme  hendaknya dipertimbangkan  dengan  bijak  untuk  melanjutkan  dan  mengembangkannya, sementara  faktor negatifnya diupayakan  sekuat mungkin –khususnya oleh orang Islam- untuk mengatasinya.
ORIENTASI PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA
Gerakan Pembaharuan Islam yang dikenal dengan istilah gerakan tajdid dengan pelbagai predikat bagi perilakunya seperti Reformisme, Puritanisme, Revivalisme sertaModernisme  sesungguhnya  merupakan  salah  satu  bentuk  implementasi  nilai  Islam setelah  Nabi wafat.  Ide  gerakan  pembaharuan  itu  dilandasi  oleh  dua  hal.
1. keyakinan  akan  universalitas  Islam  yang membawa  rahmat  bagi  semesta  alam,  tetapitidak  semua  ajaran  yang  universal  itu  diformulasikan  secara  detail  dan  rinci  oleh  al-qur’an dan al-hadits.  Dalam  persoalan  sosial  dan  kemasyarakatan,  misalnya  Islam memberikan pedoman dasar yang bersifat umum, karena  itu dibutuhkan  interpretasi,  sesuai dengan tuntutan  kebutuhan  dan  perkembangan.  Dalam  konteks  semacam  ini,  maka pembaharuan  pemikiran  Islam  itu,  selain  merupakan  tuntutan  keadaan  zaman,  juga merupakan  tanggung  jawab  agama2.   keyakinan  agama  Islam  sebagai  agama wahyu  terakhir,  berimplikasi  terhadap  keyakinan  bahwa  tidak  akan  muncul  seorang Nabi yang membawa wahyu dan petunjuk agama setelah Nabi Muhammad saw. Wafat. Maka dari kalangan ulama sebagai pewaris Nabi, muncul para pembaharu yang bertanggung  jawab memperbaharui paham keagamaan di kalangan umatnya. Fungsi ini secara  institusional  kemudian  dimanifestasikan  dalam  pelbagai  gerakan  pembaruan pemikiran Islam  gerakan  pembaruan  pemikiran  Islam  di  Indonesia  memiliki  tiga  isu  sentral.
Pertama seruan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis, yakni usaha pemurnian ajaran Islamdari segala  bentuk  bid’ah,  khurafat  dan  budaya  lokal  yang  bertentangan dengan  ajaran  Islam.   Yang di   Indonesia dipelopori Muhammadiyah, Persis dan Al Irsyad. Kedua,isu kesetaraan antara Umat Islam dengan umat lainnya.  Adanyadiskriminasi derajat umatIslam dengan  lainnya, tidak dapat dipungkiri  akibat kolonialisasi. Upaya itu meliputi pelbagai aspek kehidupan, antara lain pendidikan yang dipelopori Muhammadiyah  dan Thawalib, kemudian  perekonomian  serta perdagangan oleh  Serikat Dagang  Islam  (SDI)  dan masalah  politik  oleh  Serikat  Islam  (SI). Joung Islamiten Bond (JIB) serta Partai Islam Indonesia (PII). Ketiga,  isu  reinterpretasi.Gerakan ini memberikan tafsir baru terhadap  Islam secara kontekstual. Upaya yang dilakukan  ialah menghadapkan nilai dan norma Islam dengan ideologi-ideologi modern serta proses modernisasi yang berlangsung sejak awal pemerintahan Orde Baru, dengan memberikan  tawaran-tawaran  yang  proaktif  bahkan prospektif,  disertai  pelabagai  isu  pembaruannya,  misalnya  desakralisasi  pemikiran Islam, pemasyarakatan nilai-nilai Islam, reaktualisasi ajaran Islam dan lain sebagainya. Secara  global  gerakan  pembaharuan  sebagaimana  dijelaskan  di  atas,  tidak terlepas  dari  gerakan  pemikiran  Islam  di  seluruh  dunia.  KH.  Ahmad  Dahlan misalnya,dengan membangun Muhammadiyah  (1912)  dikatakan  mendapat inspirasi dari Muhammad Abduh, yang diambil adalah pemurniannya, pendidikan dan sosial. KHA. Dahlan bukan  tokoh intelektual, tetapi mendapat  inspirasi dariMuhammad  Abduh.  Begitu  juga  Muhammad  Abduh  adalah  murid  Jamaluddin, tetapi yang diambil bukan politik. Cokroaminoto  di  Indonesiamempunyai murid Sukarno,  dan  Sukarno mengambil  dari  Cokroaminoto  tentang  pidatonya,  tapi  bukan  faham  Islamismenya,  ditambah  sosialisme yang marxis.
  Ketiga pemikir  Islam di  Indonesia  tersebut  (Cokroaminoto, KHA. Dahlan dan  KH.  Hasyim  Asy’ari),  mudah-mudahan  tiga  tokoh  tersebut  sudah  dapat mewakili sejumlah  tokoh-tokoh yang  lain.   Berangkat  dari  fenomena  gerakan  pembaharuan  dan  gerakan  pemikiran  Islam, maka  gerakan-gerakan  tersebut  sangat  terkait  dengan  kebangkitan  Islam  itu  sendiri. Makna  dan  pengertian  mengenai  kebangkitan  Islam  dalam  terminology  Barat diistilahkan  secara  berbeda,  mulai  dari  istilah  revivalisme,  aktivisme,  milenarisme, militansi  Islam, meseanisme,  resurgence    dan  reassertion.  Sesungguhnya,  Istilah  dan terminology  yang  tepat  untuk  menamakan  kebangkitan  Islam  adalah Resurgence.Terminologi  dan  istilah  tersebut merupakan makna  dan  pengertian  yang  tepat  dengan Istilah adalam tajdid ataau ishlah Faktor-faktor  yang  mempengaruhi  kebangkitan  Islam  adalah  faktor internal  dan  eksternal.  Faktor  internal  adalah  faktor  yang  berangkat  dari  dalam tradisi Islam  itu sendiri, yaitu adanya kejumudan dan dogmatis dalam memahami ajaran  Islam,  disamping  itu  adanya  krisis  identitas  umat  Islam  dan  adanya  gaya atau  perilaku  para  pemimpin  Islam  dalam  suatu  negara..  Sedangkan  faktor eksternal sebagai faktor yang berasal dari luar adalah : adanya faktor kekecewaan Umat Islam terhadap Barat; adanya  urbanisasi  dan  dampak  sosial  yang diakibatkan modernisisasi sertaadanya tantangan kehidupan yangsemakin beratdengan menampilkan harga diri Islam Kebangkitan  Islam  pada  akhirnya  melahirkan  tipologi-tipologi  kaum intelektual  yang  tergabung  dalam  ideologi  atau  aliran  pemikiran  mulai  dari Fundamentalisme, Neo tradisionalisme,  modernisme  Islam,. Pemikiran  modern islam banyak di pengaruhi oleh berbagai aspek  kehidupan termasuk juga dari pemikiran – pemikiran yang mereka  adopsi dari para  pemikir barar dan paraaa ilmuan islam .