A. MODERNISME DAN MODERNISASI
Dalam bahasa sehari-
hari kita sering
mengatakan
"modern" atau dunia
modern. Dalam arti
yang sempit, modern berarti " yang
terbaru" atau mutakhir. Jika di kaitkan manusia sebagai anggota
masyarakat maka modern akan
berarti; "kesanggupan orang
untuk mengarahkan jalannya
sejarah modern dalam semua aspek kehidupanya, hingga muncul banyak
pemikiran modern dalam perkembangan agama misalnya : munculnya gerakan
pemikiran baru yang mungkin merupakan pemikiran yamg radikal pada aspek
keagamaan yang di lakukaaan oleh umat itu
sendiri . Gerakan pemikiran itu tidak hanyaa bertumpu pada masalah agama
tetapi terkait jugaa dengan masalah polititk umat islam serta bagaaimana
aalternatif pemikiran, cultural ataupun keagamaan untuk mengembangkan dayaa
gerak pisihikologis umat islam dalam pembangunan dalam hal ini masih terganjal dengan beberapa
aspek
1. Adanya benturan antara tradisionalisme dan
modernisasi
2. Trauma
yang muncul dalam
persaingan men-ciptakan ikatan
komunitas paska kolonialisme,
antara ikatan keagamaan dan nasionalismenya suatu bangsa
3. Sinkritisme
kultural "santri abangan"
yang sebagian merupakan
akibat dari adanya usaha
pemurnian, tetapi justru
memunculkan kategorisasi umat
hanya pada batas lingkaran yang mengambang.
Dengan latar belakang masalah tersebut di atas, maka
pemunculan gerakanpemikiran baru dalam
Islam adalah sebagai
upaya untuk menjembatani kesenjangan antara
idealitas Islam dan
kerangkan realistis umat
Islam.
GERAKAN
PEMIKIRAN ISLAM POSMODERNISME
Istilah post-modernism
atau singkatnya posmo tas mengisyaratkan sebentuk
benang merah yang menghubungkannya, yaitu
bahwa posmodernisme adalah
suatu gerakan pemikiran
atau kultur dalam fase
khusus sejarah manusia, setelah
fase modern yang berciri
relativisme dan serba
makna, yang muncul
setelah mengamati dampak kehidupan modern dan kegagalannya. Mengidentifikasi beberapa
ciri utama posmodernisme, diharapkan dapat membantu memperoleh
pemahaman yang lebih
akurat terhadap fenomena kontemporer . Oleh karenanya umat Islam jika ingin maju
harus berangkat dari prestasi . modernisme, sebagai puncak prestasi dalam
sejarah manusia sebelumnya.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat dilihat
bahwa modernitas mengembangkan pandangan
yang adil dan
obyektif tehadap posmodernisme yakni dengan menganalisis
kekuatan dan kekurangannya. Sebab
betapapun posmodenisme memiliki kontradiksi-kontradiksi, semisal .1. Ia menggugat
materialisme, tetapi ia sendiri merupakan keinginan yang tidak pernah puas
megikuti tatanan konsumerisme.
2. Posmodernisme penuh anarki, ketidak menentuan dalam
keputusan.
3. Posmodernisme penuh “intoleransi” dan cenderung
fundamentalis, “rigid” dan “literalis.4.
Posmodernisme cenderung sebagai
kesombongan intelektual, dan
cenderung sebagai diskusi akademik yang jauh dari kenyataan5. Posmodernisme cenderung menyulut kemarau intelektual
yang berkepanjangan di kalangan umat
manusia. Namun kita tidak boleh lupa angin positif yang dihembuskannya, yakni:
1. Menyadarkan
kepada kita akan pentingnya keberagaman
2. Mengembalikan
spiritual yang tercecer dari dunia modern.
3. Kebajikan yang
ada kaitannya dengan agama-agama, rendah hati, kesalehan, kasih sayang, bakti pada orang tua, dan
keberpihakan pada yang lemah. Dengan demikian
faktor positif dari
posmodernisme hendaknya
dipertimbangkan dengan bijak
untuk melanjutkan dan
mengembangkannya, sementara
faktor negatifnya diupayakan
sekuat mungkin –khususnya oleh orang Islam- untuk mengatasinya.
ORIENTASI
PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA
Gerakan
Pembaharuan Islam yang dikenal dengan istilah gerakan tajdid dengan pelbagai
predikat bagi perilakunya seperti Reformisme, Puritanisme, Revivalisme
sertaModernisme sesungguhnya merupakan
salah satu bentuk
implementasi nilai Islam setelah
Nabi wafat. Ide gerakan
pembaharuan itu dilandasi
oleh dua hal.
1.
keyakinan akan universalitas
Islam yang membawa rahmat
bagi semesta alam,
tetapitidak semua ajaran
yang universal itu
diformulasikan secara detail
dan rinci oleh
al-qur’an dan al-hadits.
Dalam persoalan sosial
dan kemasyarakatan, misalnya
Islam memberikan pedoman dasar yang bersifat umum, karena itu dibutuhkan interpretasi,
sesuai dengan tuntutan
kebutuhan dan perkembangan.
Dalam konteks semacam
ini, maka pembaharuan pemikiran
Islam itu, selain
merupakan tuntutan keadaan
zaman, juga merupakan tanggung
jawab agama2. keyakinan
agama Islam sebagai
agama wahyu terakhir, berimplikasi
terhadap keyakinan bahwa
tidak akan muncul
seorang Nabi yang membawa wahyu dan petunjuk agama setelah Nabi Muhammad
saw. Wafat. Maka dari kalangan ulama sebagai pewaris Nabi, muncul para
pembaharu yang bertanggung jawab
memperbaharui paham keagamaan di kalangan umatnya. Fungsi ini secara institusional
kemudian dimanifestasikan dalam
pelbagai gerakan pembaruan pemikiran Islam gerakan
pembaruan pemikiran Islam
di Indonesia memiliki
tiga isu sentral.
Pertama
seruan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis, yakni usaha pemurnian
ajaran Islamdari segala bentuk bid’ah,
khurafat dan budaya
lokal yang bertentangan dengan ajaran
Islam. Yang di Indonesia dipelopori Muhammadiyah, Persis
dan Al Irsyad. Kedua,isu kesetaraan antara Umat Islam dengan umat lainnya. Adanyadiskriminasi derajat umatIslam
dengan lainnya, tidak dapat dipungkiri akibat kolonialisasi. Upaya itu meliputi
pelbagai aspek kehidupan, antara lain pendidikan yang dipelopori
Muhammadiyah dan Thawalib, kemudian perekonomian
serta perdagangan oleh Serikat
Dagang Islam (SDI)
dan masalah politik oleh
Serikat Islam (SI). Joung Islamiten Bond (JIB) serta Partai
Islam Indonesia (PII). Ketiga, isu reinterpretasi.Gerakan ini memberikan tafsir
baru terhadap Islam secara kontekstual.
Upaya yang dilakukan ialah menghadapkan
nilai dan norma Islam dengan ideologi-ideologi modern serta proses modernisasi
yang berlangsung sejak awal pemerintahan Orde Baru, dengan memberikan tawaran-tawaran yang
proaktif bahkan prospektif, disertai
pelabagai isu pembaruannya,
misalnya desakralisasi pemikiran Islam, pemasyarakatan nilai-nilai
Islam, reaktualisasi ajaran Islam dan lain sebagainya. Secara global
gerakan pembaharuan sebagaimana
dijelaskan di atas,
tidak terlepas dari gerakan
pemikiran Islam di
seluruh dunia. KH.
Ahmad Dahlan misalnya,dengan
membangun Muhammadiyah (1912) dikatakan
mendapat inspirasi dari Muhammad Abduh, yang diambil adalah
pemurniannya, pendidikan dan sosial. KHA. Dahlan bukan tokoh intelektual, tetapi mendapat inspirasi dariMuhammad Abduh.
Begitu juga Muhammad
Abduh adalah murid
Jamaluddin, tetapi yang diambil bukan politik. Cokroaminoto di Indonesiamempunyai
murid Sukarno, dan Sukarno mengambil dari
Cokroaminoto tentang pidatonya,
tapi bukan faham
Islamismenya, ditambah sosialisme yang marxis.
Ketiga pemikir Islam di
Indonesia tersebut (Cokroaminoto, KHA. Dahlan dan KH.
Hasyim Asy’ari), mudah-mudahan
tiga tokoh tersebut
sudah dapat mewakili
sejumlah tokoh-tokoh yang lain.
Berangkat dari fenomena
gerakan pembaharuan dan
gerakan pemikiran Islam, maka
gerakan-gerakan tersebut sangat
terkait dengan kebangkitan
Islam itu sendiri. Makna dan
pengertian mengenai kebangkitan
Islam dalam terminology
Barat diistilahkan secara berbeda,
mulai dari istilah
revivalisme, aktivisme, milenarisme, militansi Islam, meseanisme, resurgence
dan reassertion. Sesungguhnya,
Istilah dan terminology yang
tepat untuk menamakan
kebangkitan Islam adalah Resurgence.Terminologi dan
istilah tersebut merupakan
makna dan pengertian
yang tepat dengan Istilah adalam tajdid ataau ishlah
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kebangkitan Islam adalah
faktor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah
faktor yang berangkat
dari dalam tradisi Islam itu sendiri, yaitu adanya kejumudan dan
dogmatis dalam memahami ajaran
Islam, disamping itu
adanya krisis identitas
umat Islam dan
adanya gaya atau perilaku
para pemimpin Islam
dalam suatu negara..
Sedangkan faktor eksternal
sebagai faktor yang berasal dari luar adalah : adanya faktor kekecewaan Umat
Islam terhadap Barat; adanya
urbanisasi dan dampak
sosial yang diakibatkan
modernisisasi sertaadanya tantangan kehidupan yangsemakin beratdengan menampilkan
harga diri Islam Kebangkitan Islam pada
akhirnya melahirkan tipologi-tipologi kaum intelektual yang
tergabung dalam ideologi
atau aliran pemikiran
mulai dari Fundamentalisme, Neo tradisionalisme, modernisme
Islam,. Pemikiran modern islam
banyak di pengaruhi oleh berbagai aspek
kehidupan termasuk juga dari pemikiran – pemikiran yang mereka adopsi dari para pemikir barar dan paraaa ilmuan islam .